PANDAN (FoalNews.com) – Slogan “Naik Kelas” dan janji lompatan besar yang sempat digaungkan Bupati Tapanuli Tengah, Masinton Pasaribu, saat kampanye kini menuai sorotan tajam. Gerakan Pemuda Al Washliyah (GPA) Kabupaten Tapanuli Tengah menilai janji-janji politik tersebut berbanding terbalik dengan realitas tata kelola kota yang justru menunjukkan kemunduran nyata.
Sorotan kritis ini disampaikan langsung oleh Sekretaris Terpilih GPA Tapteng, Bayu Arfian, S.E. Menurutnya, seruan ini murni lahir dari rasa keprihatinan dan keresahan mendalam pemuda setempat yang menyaksikan langsung melempemnya perawatan fasilitas umum, bahkan yang berlokasi tepat di hadapan Kantor Bupati Tapteng.
“Kami sebagai bagian dari elemen pemuda yang tumbuh dan berproses di daerah ini merasa terpanggil untuk berbicara. Ini bukan atas dasar kebencian atau sentimen politik, melainkan atas keresahan kami melihat kondisi tata kelola kota di Tapanuli Tengah saat ini,” tegas Bayu Arfian dalam wawancaranya.
Bayu mengingatkan kembali masa-masa kampanye saat retorika “Naik Kelas” berhasil menyulut optimisme warga bahwa kemajuan daerah sudah di depan mata. Namun, evaluasi di lapangan justru menampilkan pemandangan yang memprihatinkan.
Salah satu bukti paling mencolok terlihat di Alun-Alun Pandan yang menjadi pusat interaksi warga. Kawasan yang dulunya diproyeksikan sebagai ruang publik yang hidup, kini tampak suram. Lampu-lampu hias padam, sementara air mancur dibiarkan kering membisu tanpa kehidupan. Kawasan ini dinilai telah berubah menjadi area mati di malam hari. Kondisi tersebut diperparah dengan minimnya penerangan jalan di sekitar pusat pemerintahan.
“Menyusuri kawasan pusat pemerintahan di malam hari seperti melintasi lorong ketidak pedulian. Banyak lampu jalan mati dibiarkan gelap gulita tanpa perbaikan. Ini mengundang keresahan warga akan potensi kerawanan sosial. Padahal, kawasan tersebut adalah etalase utama kewibawaan birokrasi daerah,” lanjut Bayu.
Tak hanya masalah estetika dan keamanan kota, fasilitas publik untuk kesehatan warga juga tak luput dari pengabaian. Jogging track yang saban hari dimanfaatkan warga untuk berolahraga kini dalam kondisi berlubang dan terbengkalai, sehingga membahayakan keselamatan anak-anak hingga lansia.
“Ketika ruang publik dasar saja luput dari perawatan, bagaimana mungkin kami percaya bahwa lompatan besar ‘Naik Kelas’ itu sedang dikerjakan?” cetus Bayu menutupi pernyataannya.
Melalui kritikan membangun ini, GPA Tapteng mendesak Pemerintah Kabupaten Tapanuli Tengah di bawah kepemimpinan Masinton Pasaribu untuk segera mengambil langkah konkret. Pemuda Tapteng menuntut aksi nyata ketimbang sekadar narasi manis yang kontras dengan kondisi riil di lapangan.(Bhr)





